Film Adaptasi Buku Non-Fiksi
Sutradara Wregas Bhanuteja (Budi Pekerti, Para Perasuk) baru-baru ini mengumumkan bahwa dia bakal mengadaptasi buku ‘”Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring” karya dr. Andreas Kurniawan pada acara Pesta Literasi Indonesia 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta. Yang menarik adalah berbeda dengan adaptasi buku di Indonesia kebanyakan, sumber inspirasi film ini bukan lah novel atau komik. Melainkan buku pengembangan diri (self-improvement) atau yang lebih gaulnya buku motivasi yang berkutat pada aspek kejiwaan dan psikologi manusia.
Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) Andreas Kurniawan menulis buku ini sebagai salah satu sarana edukasi kesehatan mental, khususnya berkaitan dengan cara manusia memproses kesedihan dan kehilangan orang terkasih. Sekilas konten buku ini tidak memiliki kaitan sama sekali dengan film fiksi. Tidak ada plot cerita yang menggebu-gebu, klimaks yang dahsyat, atau karakter yang mengenaskan di dalamnya. Buku ini lebih fokus membahas pengalaman dr. Andreas Kurniawan yang kehilangan anaknya dan bagaimana dia menelaah fase kehidupan yang mengejutkan ini.
Lantas, bagaimana seseorang bisa mengadaptasi buku ini menjadi film narasi atau film fiksi panjang? Di tangan handal Wregas Bhanuteja tentunya ini tidak bakal menjadi suatu problem yang sulit. Namun, kita harus menunggu hingga tahun 2027 sebelum dapat menyaksikan sendiri hasilnya.
Sembari menunggu, bakal menarik membahas bagaimana industri perfilman selama ini berhasil mengangkat buku-buku non-fiksi menjadi film.
Kebanyakan adaptasi film di Indonesia berasal dari media yang umum seperti novel dan komik. Banyak juga film-film biopik sejarah yang diangkat langsung dari biografi tokoh penting atau buku investigasi peristiwa-peristiwa bersejarah. Ada kalanya muncul film yang diangkat dari media yang tidak umum. Contohnya baru-baru ini tayang film romansa Komang yang diangkat dari sebuah lagu berjudul sama. Menelisik lebih jauh, film Komang tidak berfokus pada lagunya saja, melainkan kisah cinta sang penyanyi Raim Laode. Oleh karenanya film ini juga dapat digolongkan sebagai sebuah biopik.
Maka kita perlu melihat lebih jauh ke benua lain. Lebih tepatnya kita perlu melihat ke Hollywood. Bagaimana mereka selama bertahun-tahun terus melahirkan film-film populer yang diangkat dari buku-buku non-fiksi yang sekilas hampir mustahil diubah menjadi film.
Mean Girls (2004) adalah film komedi remaja yang dibintangi Lindsay Lohan dan Rachel McAdams. Film ini mengisahkan seorang gadis naif yang pindah sekolah dan bersinggungan dengan kelompok gadis populer di sekolah barunya. Sebagian besar orang yang menonton film ini tentunya tidak bakal menyangka bahwa film ini diangkat dari buku non-fiksi tentang perundungan remaja (bullying) di sekolah. “Queen Bees & Wannabes: Helping Your Daughter Survive Cliques, Gossip, Boyfriends and the New Realities of Girl World” karya Rosalind Wiseman merupakan buku pengembangan diri yang membahas dinamika kehidupan anak sekolahan serta kaitannya dengan tren perundungan remaja.
Komedian Tina Fey yang membaca buku ini lantas terinspirasi menulis naskah dialog yang kelak berkembang menjadi Mean Girls. Memadukan isi buku dengan pengalamannya sendiri di bangku sekolah, Tina Fey menghasilkan sebuah naskah yang kocak namun tetap relevan dengan isu-isu remaja seperti perundungan dan identitas pribadi. Hasilnya Mean Girls kini dianggap sebagai salah satu film komedi terbaik di Abad ke-21 dan bahkan didaur ulang menjadi pertunjukan teater musikal yang lalu diadaptasi juga menjadi film musikal di tahun 2024.
Moneyball (2011) adalah film drama olahraga yang berfokus pada penampilan tim bisbol Oakland Athletics sepanjang musim kompetisi tahun 2002. Film yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Jonah Hill ini sebenarnya diangkat dari buku “Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game” karya Michael Lewis yang membahas filosofi dan strategi tim bisbol Amrik dalam merekrut pemain dan mengarungi musim kompetisi secara efisien. Melalui buku ini, Lewis mencoba membandingkan strategi olahraga umum dengan metode analisis statistik yang dipakai tim Oakland Athletics. Sutradara Bennett Miller bersama penulis Steven Zaillian dan Aaron Sorkin sukses bertumpu pada narasi tim Oakland Athletics yang dimuat dalam buku ini untuk menghadirkan film yang sarat dialog dan tensi tinggi.
Selain Moneyball, buku-buku non-fiksi lainnya dari Michael Lewis yang telah diangkat menjadi film panjang termasuk diantaranya The Blind Side dan The Big Short.
How to Blow Up a Pipeline (2023) terinspirasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh dosen ekologi Andreas Malm sebagai manifesto tentang aktivis lingkungan dan perubahan iklim. Sesuai judulnya, film ini mengisahkan sekelompok aktivis remaja yang merencanakan sabotase dengan meledakkan pipa perusahaan migas yang mencemari lingkungan. Sutradara dan penulis Daniel Goldhaber merasa tergerak oleh buku Andreas Malm untuk membuat film independen yang mengkritik krisis perubahan iklim saat ini.
Sedikit berbeda dengan kasus-kasus di atas, Adaptation (2002) bukan merupakan adaptasi langsung buku “The Orchid Thief: A True Story of Beauty and Obsession” karya Susan Orlean. Film ini malah berkutat pada kesulitan penulis skenario Charlie Kaufman dalam mengadaptasi buku tersebut menjadi sebuah film. The Orchid Thief sendiri merupakan buku investigasi kasus pencurian benih anggrek langka di Amerika Serikat yang ditulis oleh jurnalis Susan Orlean. Charlie Kaufman yang ditunjuk untuk menulis naskah skenarionya kesulitan untuk menyajikan plot film yang menarik.
Pantang menyerah, Kaufman lantas terilhami untuk mengubah dilemanya menjadi plot utama film. Jadilah naskah skenario yang mendramatisasi proses seorang penulis dalam mengadaptasi buku menjadi sebuah film. Kaufman bahkan mampu menyelipkan berbagai elemen fiktif untuk memperkaya cerita ke dalam naskahnya seperti kehadiran saudara kembar yang menjadi pemandu moralnya sepanjang film.
Dari berbagai contoh di atas sangat jelas terdapat banyak cara dalam mengadaptasi buku non-fiksi menjadi film. Mulai dari adaptasi langsung seperti Moneyball, sebagai pondasi dan inspirasi utama dalam Mean Girls dan How to Blow Up a Pipeline, hingga tantangan kreatif yang menjelma menjadi karya baru seperti dalam Adaptation.
Akan sangat menarik menantikan bagaimana Wregas Bhanuteja mengadaptasi buku “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring”. Apapun hasilnya kelak semoga bakal menginspirasi penulis-penulis lain untuk mencoba mengadaptasi buku-buku non-fiksi. Terdapat potensi besar bagi film-film dengan ide dan subjek cerita yang unik yang dapat memperluas khazanah perfilman Indonesia kedepannya.
Komentar
Posting Komentar