Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mesiu & Darah

Mesiu dan Darah (Bagian 5)

Lee segera meraih senapannya dan berlindung di balik pintu gerbong. Baku tembak tak terelakkan. Seiring kereta yang terus bergerak menambah kecepatannya, Lee dan seluruh anggota pasukan khusus saling bertukar tembakan peluru. 1 orang jatuh, 2 orang jatuh. Lee berhasil menembaki 2 orang anggota pasukan yang berusaha memperingatkan masinis untuk menghentikan kereta tersebut. Namun jumlah mereka yang banyak menjadi kendala tersendiri bagi Lee. Cepat atau lambat, Lee akan terdesak. Dia harus cepat memikirkan cara mengalahkan orang-orang ini. “Lee!! Begitu aku lempar segera tembak!” , suara yang sangat dikenalnya berteriak dari belakang. Ascott telah kembali sehat dan berdiri memegang 2 proyektil Howitzer di tangannya. Dia bersiap melempar. Lee paham rencana yang ada di pikiran Ascott. “Baiklah. Lempar!” Kereta semakin jauh. Mata Letnan Kim tertuju pada peti kayu yang berisi senapan khusus jarah jauh di depannya. “Tetap tembaki mereka!” , Sang Letnan langsung berlari ke arah peti k...

Mesiu dan Darah (Bagian 4)

Kini keduanya sudah sampai di depan stasiun kereta api. Dua orang tentara terlihat berjaga di depan gerbang stasiun yang hanya menyisakan runtuhan. Lee tidak mengenali keduanya, namun dirinya yakin kedua orang ini dan orang-orang yagn masih berada di dalam berasal dari kesatuan angkatan darat yang sama dengannya dan bukan dari pihak musuh. “Berhenti! Sebutkan nama, pangkat, kesatuan, dan tujuanmu di sini.” , Teriak salah satu penjaga. Senapan semi-otomatis penjaga itu telah diarahkan ke Lee dan Ascott, bersiap menembak. “Prajurit pangkat dua Lee dari Batalion ke-5 Pasukan serbu Angkatan Darat. Aku di sini untuk mengantarkan tahanan ke markas gabungan Korea-Cina di Republik Rakyat Cina. Aku mendapat perintah rahasia dari otoritas tertinggi intelejen Cina untuk membawa tahanan ini hidup-hidup. Dia memiliki informasi penting terkait pergerakan musuh di semenanjung korea.” , Lee menjawab dengan suara langtang. Tidak terdengar keraguan dalam setiap kata-katanya. Lee menyampaikan keboho...

Mesiu dan Darah (Bagian 3)

Waktu telah beranjak siang. Suara langkah kaki beriringan terdengar sayup-sayup di antara pepohonan. Lee dan Ascott muncul dari balik rimbunnya pepohonan tersebut. Mereka berhasil keluar dari hutan. Semenjak pagi setelah bangun tidur kondisi Ascott telah jauh lebih membaik daripada malam sebelumnya. Dia sudah ceria lagi. Sembari Lee membasuh muka pada sebuah mata air kecil yang mengalir di antara celah bebatuan dari puncak bukit, Ascott terlihat santai merenggangkan badan. Mata birunya sedari bangun terus berbinar, layaknya anak kecil yang sudah tidak sabar menjalani hari besarnya. Lee sebenarnya ingin bertanya apakah benar Vampir tidak tidur di malam hari layaknya kelelawar yang merupakan makhluk malam. Tapi setelah melihat wajah Ascott yang lelap tidur semalaman dan fakta bahwa semenjak kemarin hingga pagi ini dirinya tidak masalah berjalan di bawah sinar matahari Lee memutuskan tidak bertanya. Ascott merupakan kasus yang istimewa. Dia berbeda dengan vampir yang hanya diketahui melal...

Mesiu dan Darah (Bagian 2)

Jalan menuju kota lumayan jauh meski hanya memakan waktu dua hari berjalan kaki. Lee dan Ascott harus berjalan melewati perbukitan berbatu dan hutan untuk mencapai tujuan mereka. Lee berjalan di depan, matanya siaga melihat keadaan sekitar. Ascott mengikutinya dari belakang. Langkah mereka berdua beriringan. 5 menit. 10 menit. 30 menit. Sejam telah berlalu. Kedunanya hanya diam saja meniti jalan yang bakal mengantar mereka ke pelarian. Ascott nampak tidak suka dengan suasana yang canggung ini. “Hei...Hei...Lee. Jadi kau berasal dari pihak mana? Sekutu atau Utara?” , tanya Ascott. “Utara ”, jawab Lee, singkat. “ Bukankah seharusnya kau sudah tahu aku berada di pihak siapa dari baju yang kukenakan? Ahh, lupakan.” “Kenapa kau mencoba kabur? Apa kau takut terhadap sesuatu di medan perang? Mungkin kematian? Well, karena sekarang kau tengah menemani vampir melarikan driri dari medan perang maka aku beranggapan bahwa kau mungkin bukan tipe manusia yang takut terbunuh.” , tanya Ascott ...