A Samurai in Time: Sebuah Refleksi Sinema Independen dari Negeri Matahari Terbit
Dewasa ini semakin banyak orang yang mengatakan bahwa sangat mudah untuk membuat film sendiri. Bermodalkan kamera handphone dan situs atau aplikasi semacam tiktok atau youtube, seseorang dapat mulai membuat video dan film lalu mengedarkannya ke khalayak luas melalui internet. Beberapa bahkan berani berikrar bahwa era menonton film di bioskop bakal segera mati.
Namun, pada kenyataannya membuat film dan berharap banyak orang menonton karya kita tidak semudah membalikkan telapak tangan. Istilah viral saat ini ramai dilontarkan untuk mengkategorikan media, khususnya video dan musik, yang “dikonsumsi” oleh banyak orang dalam waktu singkat. Sayangnya tidak semua media yang dibuat tiap harinya bisa mencapai mencapai tingkat “viral” ini. Kerap kali kita tidak bisa memprediksi kapan dan media apa yang bakal populer atau menjadi viral. Hal yang sama juga berlaku untuk film.
Berbeda dengan film-film bioskop berskala besar yang memiliki budget, infrastruktur, dan dukungan yang mumpuni dari studio film (yang tugasnya memang menjalankan “manufaktur” film), sinema independen seringkali menjadi satu-satunya jalan bagi calon sineas yang baru memulai karir untuk membuat film dan menunjukkannya kepada dunia. Selain bersaing dengan film-film blockbuster, kini sinema independen juga harus bersaing dengan kehadiran internet dan video-video “viral” yang abundan di media sosial, youtube dkk.
Ketimbang memusuhi tren yang terus berkembang, sejumlah film independen mencoba memadukan viralitas internet dengan pengalaman tradisional menonton film di bioskop. Hasilnya, sinema independen yang semakin dikenal luas dan di saat bersamaan memperkaya pilihan film yang bisa disaksikan di bioskop hingga layanan streaming.
Dalam artikel ini kita akan membahas salah satu film independen yang menjadi viral berkat kehadiran internet dan sepak terjang sinema independen di Jepang.
------
A Samurai in Time merupakan film fiksi ilmiah buatan sutradara dan penulis Junichi Yasuda yang dirilis pada tahun 2024 silam. Film ini mengisahkan seorang samurai dari masa lalu yang ‘nyasar’ ke Jepang di masa sekarang. Premis kocak ini lantas menghadirkan tontonan menghibur bagi penonton yang menyaksikan tingkah laku sang samurai yang terkaget-kaget dengan modernitas yang dijumpainya.
Selain komedi dan fiksi ilmiah, film ini juga tergolong “meta”. Artian meta di sini merujuk pada bagaimana film A Samurai in Time secara terang-terangan mereferensikan diri sendiri dan kondisi industri film samurai di Jepang. Dalam film, sang samurai bertahan hidup di era modern dengan bekerja sebagai pemeran figuran di produksi berbagai seri TV samurai yang menghiasi layar TV Jepang tiap tahunnya. Pekerjaan sebagai figuran memaksanya berpura-pura mati dalam duel pedang hingga berulang kali. Sebagai film samurai yang salah satu plot ceritanya berkutat pada syuting film samurai modern di Jepang tentunya sangat unik dan menarik. Keunikan ini lantas membuat film A Samurai in Time yang merupakan film independen dengan budget dan pemasaran terbatas menjadi viral hingga ke luar negeri.
Ide film A Samurai in Time bermula dari sutradara Junichi Yasuda yang menonton iklan tentang samurai yang juga “nyasar” ke era modern. Yasuda terinspirasi membuat film tentang sepak terjang samurai di era modern. Dia juga terinspirasi dari karir mendiang Seizo Fukumoto, aktor yang kerap memerankan figuran yang selalu mati dalam film-film samurai.
Yasuda yang memulai karir sebagai videografer acara pernikahan kerap kali berfokus membuat film-film independen dengan budget kecil. Pada tahun 2023 Yasuda diwarisi usaha pertanian dari orang tuanya. Dia harus membagi waktu antara mengurusi lahan sawah dengan kegiatannya sebagai penulis dan sutradara. Demi menjamin usaha pertanian keluarganya tetap berjalan, Yasuda nekat membuat film A Samurai in Time memakai dana pribadi dengan harapan dapat menggunakan laba film sebagai modal tambahan usaha pertaniannya.
Guna mewujudkan rencananya Yasuda merekrut kru dan pemeran dalam jumlah terbatas. Beberapa diantaranya bahkan merangkap kerja di depan dan di belakang kamera. Yasuda sendiri juga merangkap kerja sebagai sutradara, penulis skenario, sinematografer dan editor film. Yasuda turut mengajukan bantuan pendanaan dari kementerian kebudayaan Jepang hingga meminjam set studio Toei di kota Kyoto yang masih sering digunakan sebagai lokasi syuting film dan seri TV samurai di Jepang.
Untuk penayangan film ini Yasuda dkk. memilih menyewa gedung bioskop independen Cinema Rosa di Ikebukuro. Bioskop dengan dua ruangan teater ini kerap kali menayangkan film independen yang tidak bisa tayang secara luas karena keterbatasan dana atau film debutan. Di Jepang sudah menjadi hal lumrah bagi sejumlah film independen yang hanya ditayangkan di satu-dua ruang teater dalam waktu terbatas. Film-film ini mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut untuk memasarkan hasil karya mereka. Film A Samurai in Time juga mengandalkan metode serupa. Junichi Yasuda selaku sutradara bersama pemain dan kru bahkan membagikan pamflet di depan bioskop pas penayangan film mereka.
Metode ini terbukti mampu mempopulerkan film-film yang dianggap “murahan”, khususnya di era internet saat ini. Film zombie independen “One Cut of The Dead” yang tayang pada tahun 2017 awalnya hanya tersedia di satu bioskop saja. Namun meluas ke seluruh Jepang berkat rekomendasi dari mulut ke mulut dan ulasan dari warganet yang menjadikan film ini dan trailernya viral. Film A Samurai in Time juga mengalami hal serupa setelah tayang pada bulan Agustus 2024.
Berkat rekomendasi dan ulasan di internet, film A Samurai in Time perlahan dilirik banyak orang dan tayang di berbagai wilayah di Jepang. Hasilnya film ini mampu meraih keuntungan hingga 1 Milyar Yen dari budget sekedar 26 Juta Yen. Lebih lanjut, film ini meraih banyak penghargaan dan apresiasi dari beragam pihak termasuk diantaranya Penghargaan Blue Ribbon Awards dan piala Japan Academy Film Prize ke-48 untuk film terbaik.
Popularitas film berdurasi 131 menit ini di media sosial tidak hanya menarik minat di dalam negeri, namun juga mulai merambah hingga ke mancanegara. Hingga tahun 2025 film A Samurai in Time telah melalang buana ke berbagai festival film internasional dan ditayangkan sebagai bagian dari kurasi film oleh Kedutaan Jepang di luar negeri. Film ini juga ditayangkan secara daring atau online di sejumlah layanan streaming seperti Amazon Prime, Apple TV+, Mubi, dll. Tergolong hebat untuk ukuran film berbudget minim.
-----
Belajar dari pembuatan film A Samurai in Time, film yang berpotensi gagal total ini malah menemukan kesuksesan terlepas dari sejumlah keterbatasan (budget, pemasaran, dll). Seringkali kita hanya melihat film-film independen yang tayang secara terbatas di festival film lalu akhirnya menghilang dan tak terdengar lagi kabarnya. Beberapa film yang beruntung meraih penghargaan di festival film mungkin bakal dilirik oleh distributor dan tayang di bioskop dalam skala kecil tak lama setelahnya. Ada pula film yang langsung ‘dioper’ ke layanan streaming atau harus menunggu beberapa tahun sebelum mendapat kesempatan untuk tayang secara komersil di bioskop.
A Samurai in Time tergolong beruntung ketimbang film-film independen lain, termasuk di Indonesia. Selain jalur penayangan di bioskop Jepang yang lebih terbuka menyambut film independen, kegigihan kru film dan antusiasme penonton yang mau memberi kesempatan bagi film dengan ide-ide orisinil patut ditiru oleh penonton di negara lain.
Seperti yang disinggung di awal, saat ini calon sineas film dapat dengan mudah memakai kamera smartphone untuk membuat film sendiri lalu mengunggahnya ke situs youtube, tiktok, dsb. Namun, tentunya ada keterbatasan dari metode semacam ini. Calon sineas yang ingin serius mungkin bakal mencoba membuat film melalui jalur independen yang lebih ‘resmi’. Terdapat sejumlah rintangan yang harus dilalui demi memulai produksi sebuah film dan bahkan menyelesaikannya. Tidak semua orang bisa mengulang kesuksesan film independen semacam A Samurai in Time atau Blair Witch Project. Namun tidak menutup kemungkinan dengan perencanaan yang matang, kegigihan, dan sedikit keberuntungan suatu saat nanti akan muncul film-film independen “viral” lainnya.

Komentar
Posting Komentar