High and Low - a Review

Akira Kurosawa merupakan nama legendaris dalam dunia perfilman. Sutradara asal Jepang ini mampu mengangkat sinema Jepang yang tengah terpuruk paska Perang Dunia Kedua menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di kancah dunia. Kurosawa banyak menginspirasi sutradara-sutradara setelahnya, khususnya di Hollywood. Star Wars dari sutradara George Lucas terinspirasi langsung dari film Hidden Fortress karya Kurosawa. Koboi tak bernama yang dipopulerkan Clint Eastwood merupakan replika samurai pengelana yang diperankan Toshiro Mifune di film Yojimbo. Sementara, Magnificent Seven merupakan adaptasi langsung dari Seven Samurai. Bisa dibilang Kurosawa menjadi “guru” bagi sineas-sineas kenamaan Hollywood.

Sepanjang karirnya Akira Kurosawa telah menghasilkan banyak film populer dan film yang kurang diterima publik saat dirilis namun menjadi “cult classic” puluhan tahun kemudian. Sebagian besar filmnya merupakan karya orisinil. Namun, banyak juga yang merupakan adaptasi atau terinspirasi dari karya lain. Salah satunya William Shakespeare. Kurosawa banyak mengambil inspirasi dari tulisan-tulisan Shakespeare. Beberapa diantaranya dapat disaksikan dalam film The Bad Sleep Well, Throne of Blood, dan Ran.

Selain Shakespeare, Kurosawa juga tidak segan mengadaptasi karya-karya penulis lain. Salah satunya adaptasi novel barat berjudul “King’s Ransom” yang menjelma menjadi film “High and Low”.
 
Berbeda dengan film-film samurai yang mempopulerkan nama Kurosawa di barat, High and Low merupakan film noir thriller yang bersetting di era modern Jepang. Film yang dirilis pada 1963 ini kerap dianggap sebagai Cult Classic dan menginspirasi sineas-sineas modern hingga saat ini. Mari kita menelisik lebih dalam apa yang membuat film ini menarik dari kacamata pecinta film.

A Timeless Classic 
 
Berbeda dengan film-film Kurosawa umumnya yang bersetting di masa lampau, khususnya era dimana samurai dan ronin masih banyak berkeliaran, High and Low bersetting di era modern Jepang (dalam hal ini adalah era 50-60an saat film ini dirilis). Gedung-gedung pencakar langit, mobil dan motor yang berlalu-lalang di jalan raya, hingga gerbong kereta cepat yang melintas di atas rel besi menjadi pemandangan yang umum ditemui dalam film ini. Kurosawa dan timnya dengan seksama dan hati-hati menempatkan penonton dalam setting kontemporer yang dapat diterjemahkan menjadi waktu dan lokasi manapun. Bila orang lain menyaksikan sekilas film ini dan menerkanya bersetting di era yang jauh lebih modern mungkin saja tidak ada yang bakal membantahnya.
 
Konsep kontemporer ini tidak hanya terlihat dari segi produksi set saja. Kurosawa mencoba mengangkat kisah dan tema yang universal melalui film ini. High dan Low bercerita tentang seorang pejabat pabrik sepatu yang berencana mengambil alih perusahaannya. Di hari dimana dia siap mengucurkan seluruh kekayaannya untuk membeli saham mayoritas perusahaan, sang eksekutif mendapat kabar buruk via telpon. Anaknya telah diculik. Sang penculik meminta uang tebusan dalam jumlah besar.
 
Setelah berkoordinasi dengan polisi, sang eksekutif berencana membayar tebusan menggunakan uang yang seharusnya dipakainya untuk membeli perusahaan. Namun, tanpa disangka anaknya pulang dalam keadaan baik-baik saja. Rupanya sang penculik telah salah menculik orang. Anak yang sesungguhnya diculik adalah anak supir pribadinya. Sang eksekutif dihadapkan pada dilema apakah tetap menggunakan uangnya untuk membeli perusahaan atau membayar tebusan dan menyelamatkan anak supirnya.
 
Seperti yang saya singgung di atas, Kurosawa mencoba mengangkat tema yang universal melalui film ini. Film ini berfokus pada dilema moral yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Apakah yang bakal kita lakukan ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Film ini juga menyinggung isu-isu yang relevan seperti kesenjangan sosial antara orang kaya dan orang miskin serta bagaimana seseorang dapat terjerumus dalam narkoba dan kriminalisme. Tema-tema semacam ini tidak terbatas pada satu lokasi atau waktu saja. Penonton dapat merasakan bahwa hal-hal ini masih terjadi di sekitar kita. Maka layak film ini disebut sebagai sebuah karya yang tak lekang oleh waktu atau timeless classic.

Seni Blocking Teater
 
Salah satu hal pertama yang seringkali disadari penonton saat menyaksikan film-film Akira Kurosawa adalah bagaimana dia menempatkan aktor dan kamera dalam satu bingkai. Kurosawa sangat teliti dalam menyampaikan cerita melalui bahasa visual. Dia menggunakan berbagai metode untuk mengutarakan emosi sebuah adegan kepada penonton. Kurosawa tidak segan memanfaatkan elemen-elemen alam seperti hujan, angin, atau api guna mendramatisir cerita secara hiperbolik.
 
Hal yang sama juga berlaku terhadap aktor-aktornya. Berbeda dengan sebagian sutradara yang membiarkan adegan berjalan secara natural dan meletakkan kamera sehingga tidak mengganggu performa aktor, Kurosawa cenderung lebih terlibat dalam setiap gestur aktornya.
 
Dalam pertunjukan drama teater seringkali memperhatikan penempatan aktor di atas panggung agar penampilan mereka senantiasa terlihat oleh penoton tanpa terhalang suatu apapun. Di dunia seni peran, ini disebut sebagai “blocking”. Berbeda dengan teater yang dibatasi oleh sudut penonton dan luas panggung, syuting film kerap kali tidak mempertimbangkan hal ini. Aktor lebih bebas bergerak dan kadangkala berada dalam posisi yang canggung atau tidak terlihat jelas di depan kamera. Lain halnya dengan Kurosawa.
 
Dalam High and Low, terutama pada sebagian besar adegan di paruh awal film, perhatian penonton sepenuhnya tertuju pada dinamika antara aktor utama dan aktor pendukung. Bagaimana posisi dan relasi aktor terhadap kamera serta aktor lain dalam frame yang sama menunjukkan skala prioritas dan hubungan mereka tanpa mengorbankan banyak waktu melalui eksposisi bertele-tele atau cut ke close-up yang sia-sia. Bahkan dengan jumlah aktor yang cukup banyak pun, Kurosawa dengan lihai membagi layar sedemikian rupa melalui blocking sehingga penonton tidak kehilangan fokus karakter mana yang menjadi pusat perhatian sembari tetap memperlihatkan raut muka dan reaksi karakter lain.
 
Sebelum menutup ulasan kali ini, saya ingin menyinggung sedikit tentang remake film High and Low dari sutradara Spike Lee berjudul Highest 2 Lowest. Meski memiliki alur dan tema yang sama, namun Spike Lee tidak mentah-mentah mencoba meniru versi Akira Kurosawa. Berbeda dengan remake film Oldboy yang dibuatnya dulu. Spike Lee mencoba menghadirkan interpretasinya sendiri yang lebih sesuai dengan situasi kota asalnya, New York. Meski tergolong bagus dan mengikuti perubahan zaman, sayangnya film ini masih kalah ketimbang versi orisinilnya dulu. High and Low masih layak disaksikan hingga saat ini terlepas dari “kekurangan” seperti film ini yang disajikan dalam bentuk hitam-putih.
 
Demikian ulasan singkat saya tentang High and Low. Berikut beberapa rekomendasi saya untuk film-film Jepang lainnya yang cukup monumental dan patut mendapat perhatian dari pecinta film.
 
  • The Cure. Sutradara Kiyoshi Kurosawa (tidak memiliki relasi dengan Akira Kurosawa) terkenal kerap membuat film thriller dan psychological horror. Salah satunya adalah The Cure. Film ini berfokus pada sepak terjang detektif yang mencoba mengungkap pelaku serangkaian pembunuhan misterius. Pelaku hanya meninggalkan petunjuk berupa simbol X di lokasi pembunuhan. 
  • A Tokyo Story. Salah satu film klasik yang menempatkan industri film Jepang di mata dunia. Dibuat oleh Yasujiro Ozu, film ini mengisahkan sepasang suami istri lanjut usia yang mencoba mengunjungi anak-anaknya di Tokyo. Sesampainya di Tokyo betapa terkejutnya mereka dengan perlakuan anak-anaknya yang sudah terlanjur sibuk dengan keluarga masing-masing. 
  • Perfect Days. Meski merupakan film Jepang, film ini sejatinya dibuat oleh sutradara asal Jerman, Wim Wenders. Konon proyek ini diprakarsai oleh Tadashi Yanai dan anaknya Koji Yanai, pendiri merek pakaian Uniqlo, yang membuat sekumpulan toilet unik dan modern di sekitar Tokyo. Wenders menyulap film komersil yang awalnya bertujuan mengiklankan toilet-toilet ini menjadi refleksi kehidupan dari sudut pandang seorang petugas kebersihan.
  • Shin Godzilla. Dibuat oleh Hideaki Anno dan Shinji Higuchi yang terkenal melalui anime Neon Genesis Evangelion, keduanya mencoba me-reboot ikon film monster Jepang, Godzilla, ke era modern. Dibuat paska bencana alam gempa dan tsunami Tohoku, Shin Godzilla menggambarkan keruwetan birokrasi Jepang dan lambatnya respon pemerintah terhadap situasi gawat darurat bencana yang disimbolkan melalui kemunculan Godzilla.
  • Shoplifters. Disutradarai oleh Hirokazu Kore-eda, film drama ini mengisahkan kondisi sebuah keluarga miskin yang sehari-hari bertahan hidup dengan melakukan aksi kriminal kecil-kecilan seperti mencuri dari toserba. Suatu ketika, hidup keluarga ini perlahan berubah setelah mereka memungut seorang bocah yang ditelantarkan orang tuanya.
 
Selanjutnya: A Car, A Lake, & The Sound of Gunshot

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Papers, Please dan Kebangkitan Gim Simulasi Puzzle Berkedok Penyortiran Dokumen

Membangun Geosite Sukomoro untuk Pariwisata Berkelanjutan di Sumatera Selatan

Pesona Irlandia Utara – Dari Titanic, Game of Thrones, Hingga Sepatu Raksasa