No Other Choice - Sebuah Ulasan
Sutradara Park Chan-wook merupakan salah satu sineas tersohor di Korea Selatan. Filmnya berjudul Joint Security Area (JSA) yang dirilis di awal milenium membangkitkan gairah film domestik yang sempat mati suri imbas membludaknya impor film luar negeri dan ketatnya sensor media sepanjang dekade 90-an. JSA mampu melengserkan dominasi film impor di bioskop Korea Selatan.
Sepak terjang Park Chan-wook tidak terhenti di situ saja. Pada tahun 2003, sutradara Park merilis film Oldboy yang diadaptasi dari komik manga Jepang berjudul sama. Oldboy memahsyurkan nama Park di dunia internasional. Seiring kepopulerannya yang terus menanjak dan berbagai film yang dihasilkannya, baik di Korea Selatan maupun di luar negeri, Sutradara Park terus melahirkan karya-karya yang unik dan memukau.
No Other Choice merupakan film terbaru Park Chan-wook. Ini merupakan film domestik pertamanya setelah menghabiskan beberapa tahun terakhir di Hollywood untuk membuat Seri TV “The Sympathizer”yang dibintangi aktor Robert Downey, Jr. Film ini kembali mempertemukannya dengan aktor utama film JSA, Lee Byung-hun. Seperti halnya Sutradara Park, sejak membuat JSA lebih dari dua dekade yang lalu Lee Byun-hun berhasil membangun karir sebagai bintang film internasional. Lee terlibat dalam sejumlah film dan seri TV populer, seperti G.I. Joe, Red, hingga Squid Game.
Film ini sendiri merupakan adaptasi kedua dari novel “The Ax” karya Donald Westlake. Sebelumnya novel ini telah diadaptasi menjadi film Prancis berjudul “Le Couperet/The Axe (Pemecatan/Kapak)” yang disutradarai Costa-Gavras pada tahun 2005. Novel satir ini berkutat pada dampak pemecatan atau PHK kepada seorang kepala keluarga. Demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, sang ayah menghalalkan segala cara demi mendapat pekerjaan di usia yang tak lagi muda.
Sutradara Park lantas memanfaatkan insting dan skillnya sebagai sineas untuk mengembangkan premis sebuah novel standar menjadi cerminan kondisi lapangan pekerjaan modern yang terus tergerus oleh kemajuan teknologi dan perubahan zaman. Hasilnya? Salah satu film drama komedi yang getir dan menegangkan hingga akhir.
Lee Byung-hun memerankan Yoo Man-su, manajer sebuah perusahaan kertas yang kehilangan pekerjaannya setelah para petinggi perusahaan memutuskan melakukan efisiensi dan mengganti karyawan dengan mesin. Setelah dipecat, Man-su kesulitan mencari pekerjaan tetap. Dia dan keluarganya terancam jatuh miskin. Demi memperoleh kembali posisi di industri kertas dan mempertahankan gaya hidup mereka, Man-su lantas membuat rencana jahat untuk membunuh saingannya dalam rekrutmen kerja.
Lee memerankan Man-su sebagai sesosok suami dan ayah yang tertekan atas tanggung jawabnya sebagai pencari nafkah keluarga. Berbeda dengan film-film lainnya dimana Lee Byung-hun kerap memerankan karakter yang keren, berwibawa, atau dingin, di film ini Lee mempertunjukkan sisinya yang lebih rentan dan lemah. Berbagai hal yang dilakukan Man-su sepanjang film tergolong kriminal dan egois, namun ekspresi wajah yang memelas dan gerak-geriknya yang kikuk bakal membuat penonton iba. Lee tergolong sukses menyajikan sosok tokoh utama yang relevan dan simpatik di balik aksi bejatnya.
Sutradara Park dengan lihai meramu film No Other Choice sebagai sebuah tontonan yang menegangkan namun di saat bersamaan sangat modis dan inovatif. Sutradara Park terkenal dengan instingnya mengedit film secara dinamis. Park dan timnya selalu menemukan cara baru untuk mentransisi adegan dan shot yang terkesan natural ketika sineas lain mungkin kewalahan menyambung potongan drama domestik agar terus mengalir tanpa kehilangan plot utamanya. Contohnya ketika Man-su merencanakan pembunuhan pertamanya. Penonton dapat menangkap detail plot seperti kondisi kehidupan calon korban hingga alegori yang ingin disampaikan sutradara Park terkait psikologi Man-su secara bersamaan berkat editing yang efektif.
Selain itu, sutradara Park juga tidak segan mengintegrasikan teknologi modern ke dalam plot dan editingnya. Banyak film lain menghindari penggunaan smartphone, PC tablet, dan sebangsanya karena dianggap membosankan atau kurang sinematik. Padahal smartphone dan internet termasuk item yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan Park Chan-wook. Dalam film ini beberapa kali muncul percakapan via video call. Di film lain adegan telpon semacam ini bakal menggunakan split screen atau transisi cepat antara kedua pembicara. Namun sutradara Park memilih menyajikan adegan ini dalam satu shot yang sama untuk memperlihatkan layar smartphone. Terkadang Park juga menyelipkan detail unik. Contohnya dalam sebuah percakapan video call lucu dimana Man-su habis digigit ular.
Melalui film ini Sutradara Park dan Lee Byung-hun ingin menyampaikan pesan yang cukup universal tentang kondisi masyarakat modern dan tantangan kedepan. Sutradara Park bahkan menyelipkan sindiran kecil di penghujung film terkait “bahaya” mesin otomatis, robot dan AI yang mulai banyak dipakai di berbagai industri. Selayaknya film satir lain, No Other Choice menyajikan kritikan tajamnya dalam bungkusan yang menggoda. Sebagai penonton, kita tidak memiliki pilihan lain selain menikmatinya dengan lahap.
Komentar
Posting Komentar