Scarlet - Sebuah Ulasan

Mamoru Hosoda terkenal sebagai salah satu animator dan sutradara animasi terbaik yang dimiliki Jepang saat ini. Namanya kerap kali disejajarkan dengan kontemporer seperti Makoto Shinkai atau Mari Okada. Hosoda mulai dikenal publik sebagai salah satu otak di balik adaptasi anime (istilah Jepang untuk kartun/ animasi) populer Digimon. Kesuksesan anime ini lantas memberinya kesempatan untuk menyutradarai film animasi panjang The Girl who Leapt Through Time yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Hosoda perlahan mulai bertransisi dari membuat animasi untuk seri TV menjadi sutradara film tulen melalui film orisinilnya, Summer Wars.

Pada tahun 2011 Hosoda mendirikan studio animasinya sendiri, Studio Chizu. Melalui Studio Chizu Hosoda terus mengasah skillnya dan memproduksi film-film anime orisinil. Film teranyarnya yaitu Scarlet telah dirilis secara global di penghujung tahun 2025. 

Scarlet merupakan film drama fantasi yang berfokus pada heroine berambut merah bernama Scarlet. Berbeda dengan film-film Mamoru Hosoda pada umumnya yang mengambil tema-tema tentang persahabatan, romansa, atau masa muda, Scarlet cenderung lebih “dewasa”. Film ini mengisahkan tuan putri Scarlet yang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, sang raja, akibat kudeta oleh pamannya.

Bersetting di Eropa pada abad pertengahan, film ini konon mengambil inspirasi dari kisah-kisah tragedi buatan penulis tersohor William Shakespeare. Elemen fantasi dalam film ini muncul ketika Scarlet, yang gagal balas dendam dan diracuni, entah bagaimana berakhir di alam baka. Di alam baka Scarlet bertemu dengan Hijiri, seorang pemuda dari era modern Jepang, yang terdampar di sana tanpa mengetahui sebabnya. Scarlet mendengar rumor bahwa pamannya juga berakhir di alam baka. Bersama Hijiri, Scarlet memutuskan mencari pamannya dan membalaskan dendamnya. 

Penggambaran alam baka di film ini mencomot langsung konsep Purgatory yang dipopulerkan dalam buku The Divine Comedy karya Dante Alighieri. Scarlet dan Hijiri harus melalui berbagai rintangan untuk mencapai ujung alam baka. Sepanjang film tekad balas dendam Scarlet terus diuji. Utamanya oleh Hijiri, seorang petugas medis (EMR) yang membenci pertumpahan darah, dan kemunculan musuh-musuh Scarlet yang terlibat dalam pembunuhan sang raja.

Ketimbang film-film Mamoru Hosoda sebelumnya, film ini lebih sarat adegan aksi. Scarlet digambarkan sebagai protagonis yang tersiksa namun memiliki jiwa petarung. Sepanjang film Scarlet harus berjuang mati-matian menghadapi tantangan yang mustahil. Film ini terasa jauh lebih kelam berkat visual-visual yang disajikan untuk mewakili alam baka; seperti kolam darah, sisa-sisa reruntuhan, gunung api, petir, hingga tengkorak dan baju zirah yang berserakan dan terkubur dalam lautan pasir.

Hosoda dan tim di Studio Chizu kembali sukses memadukan elemen animasi 2D Jepang dengan animasi 3D yang lebih dominan dipakai di barat. Transisi antara kedua jenis animasi ini jauh lebih mulus dari sebelumnya. Khususnya dalam adegan-adegan aksi yang memerlukan koreografi kompleks. 

Sayangnya film ini cenderung lemah dari segi alur cerita. Scarlet berusaha menyajikan plot fantasi yang minim eksposisi bertele-tele dan lebih berfokus pada bahasa visual. Untuk ukuran film berdurasi dua jam, banyak poin penting yang akhirnya harus dipangkas atau terlewatkan begitu saja. Ketimbang mengembangkan intrik internal kerajaan atau krisis eksistensial terkait alam baka, Hosoda lebih tertarik memasukkan elemen romansa yang terkesan dipaksakan antara Scarlet dan Hijiri.

Hosoda turut menyelipkan beberapa momen musikal untuk memecah ketegangan film. Ketimbang karya-karya Makoto Shinkai atau film Hosoda sebelumnya, Belle, yang berfokus pada lagu dan musik, momen semacam ini terasa canggung dan aneh. Meski begitu, secara keseluruhan Scarlet menyajikan tontonan yang menghibur untuk semua kalangan.

Akhir kata, Scarlet merupakan film yang menghibur dan memiliki sejumlah aspek positif. Namun dibandingkan filmografi Mamoru Hosoda lainnya, film ini kalah unggul dan kurang meninggalkan kesan mendalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Papers, Please dan Kebangkitan Gim Simulasi Puzzle Berkedok Penyortiran Dokumen

Membangun Geosite Sukomoro untuk Pariwisata Berkelanjutan di Sumatera Selatan

Pesona Irlandia Utara – Dari Titanic, Game of Thrones, Hingga Sepatu Raksasa